Warga Gaza Rayakan Iduladha di Tengah Tenda Pengungsian dan Kehilangan

share on:

Gaza, Palestina – Pada Iduladha di tahun-tahun sebelumnya, keluarga Baroud selalu memulai hari raya sejak fajar menyingsing. Mereka berkeliling jalan-jalan di Kamp Pengungsi Shati di Kota Gaza, mengunjungi rumah kerabat, dan membagikan daging hewan kurban kepada anggota keluarga.

Di akhir setiap hari raya, mereka mengambil foto keluarga tahunan — ritual yang selalu dilakukan setiap Iduladha — lalu membagikannya kepada kerabat di luar negeri.

Namun pada Iduladha kali ini, di tengah genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, Walaa Baroud duduk memandangi foto terakhir itu, menggenggamnya sebagai satu-satunya kenangan dari masa yang telah berlalu.

Dari 22 wajah yang memenuhi foto tersebut, 13 di antaranya kini telah tiada. Mereka tewas dalam serangkaian serangan Israel yang menargetkan keluarga besar mereka, yang menyebabkan lebih dari 80 anggota keluarga meninggal dunia.

Jika dahulu keluarga itu berkumpul untuk satu foto bersama, kini mereka berkumpul dalam suasana duka untuk saudara mereka, Baha Baroud.

Baha tewas beberapa hari lalu dalam serangan Israel, meninggalkan keluarganya menjalani Iduladha yang dimulai dari tenda belasungkawa dan berlanjut di rumah sakit tempat jasadnya masih berada.

“Perang belum berhenti merenggut orang-orang yang kami cintai, dan kami tidak pernah membayangkan akan membuka tenda duka di tengah gencatan senjata,” kata Walaa kepada Al Jazeera. “Kami terjebak di antara dua masa dan tenggelam dalam kenangan yang menyakitkan.”

Genosida Israel di Gaza kini telah menewaskan hampir 73 ribu orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

A girl holding a piece of candy stands among Palestinians performing morning prayers marking the start of Eid al-Adha, the Feast of Sacrifice, on a heavily damaged street in Khan Yunis in the southern Gaza Strip on May 27, 2026.
Seorang gadis yang memegang permen berdiri di antara warga Palestina yang sedang melaksanakan salat subuh untuk menandai dimulainya Idul Adha di sebuah jalan yang rusak parah di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, pada 27 Mei 2026 [AFP]

“Hari Raya yang Dipenuhi Kehilangan dan Kesedihan”

Seorang janda bernama Hajja Shama al-Zorbatli tinggal di tenda kecil di atas trotoar, yang hanya ditutupi selembar kain sebagai pelindung dari pandangan orang yang lewat.

Ia kehilangan suami dan rumahnya. Ketika ditanya tentang suasana Iduladha, ia tampak seolah baru pertama kali mendengar pertanyaan itu.

“Iduladha tidak masuk ke dalam tenda,” katanya kepada Al Jazeera.

Di dalam tendanya tidak ada listrik, telepon, televisi, ataupun internet. Ia begitu terisolasi hingga tidak mengetahui hari atau momen apa yang sedang berlangsung.

Setelah melihat cuplikan jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah, ia tidak mampu menahan air matanya.

“Saya belum pernah masuk ke Baitullah. Keinginan saya adalah menunaikan ibadah haji,” katanya. “Tetapi haji seperti apa ini ketika saya bahkan tidak bisa menemukan makanan untuk dimakan?”

Al-Zorbatli yang berusia sekitar 70 tahun mengenang Iduladha di lingkungan Shujayea, Kota Gaza, ketika ia pergi ke pasar membeli pakaian untuk cucu-cucunya, membawa manisan, dan membuat kue hari raya.

Namun kini ia menggambarkan hari raya itu sebagai “Iduladha para syuhada, yang berlalu tanpa kegembiraan dan dipenuhi kehilangan serta kesedihan.”

Ia menunjuk sepatunya yang usang lalu memperlihatkan pakaiannya yang lusuh.

“Saya tidak punya apa-apa selain satu pakaian lain. Saya mencuci yang ini lalu memakai yang satunya,” katanya.

“Perang Telah Menghancurkan Kami”

Di tenda sebelah, seorang lansia Palestina lainnya, Mohammed Obeid, menyambut Iduladha seorang diri setelah perang merenggut istrinya, kedua kakinya, dan rumahnya di Shujayea.

Obeid, seorang penyandang amputasi yang dibebani usia dan penyakit, duduk di kursi roda sambil menghabiskan waktunya membaca Al-Qur’an.

“Saya dulu hidup terhormat. Saya memiliki rumah empat lantai di Shujayea, dan saya berjalan di tengah masyarakat dengan kepercayaan diri seorang pria yang hidup berkecukupan,” katanya.

Namun setelah perang, segalanya berubah. Istrinya tewas, kedua kakinya diamputasi, dan tenda menjadi tempat terakhir yang tak pernah ia bayangkan akan ditempati.

“Iduladha hari ini sama seperti hari biasa; tidak ada yang berbeda,” kata Obeid. “Perang telah menghancurkan kami. Saya dulu menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada tetangga di Shujayea. Hari ini justru orang-orang yang membagikan sedekah kepada saya,” ungkapnya sambil mengusap bagian tubuh tempat kedua kakinya dahulu berada.

Tak Ada Hewan Kurban Tahun Ini

Perubahan dari tradisi penyembelihan hewan kurban menjadi hampir tidak adanya hewan kurban di Gaza bukan hanya kisah pribadi. Hal itu mencerminkan runtuhnya sistem yang selama ini bergantung pada lembaga amal dan organisasi keagamaan.

Karam Khaled, koordinator proyek kurban di yayasan amal Ru’ya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa musim kurban di Gaza tahun ini benar-benar terhenti akibat penutupan perbatasan, kelangkaan ternak, dan lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelum perang, yayasan tersebut biasa menyembelih antara 300 hingga 400 sapi dan kambing setiap musim kurban. Jumlah itu menurun drastis setelah perang dimulai dan kini berhenti sepenuhnya.

Harga seekor kambing di pasar lokal melonjak menjadi antara 4.500 hingga 6.000 dolar AS, dibanding sekitar 350 dolar sebelum perang.

“Melaksanakan kurban dengan cara tradisional kini menjadi sesuatu yang mustahil secara finansial, baik bagi lembaga maupun masyarakat biasa,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penutupan perbatasan dan pembatasan transfer dana dari luar negeri semakin memperumit keadaan dan menghambat banyak proyek donasi terkait kurban.

Daging Beku Jadi Pengganti

Yayasan Ru’ya akhirnya beralih pada solusi darurat: membagikan daging beku sebagai pengganti hewan kurban hidup, meskipun harganya juga tinggi.

Lembaga itu mengalokasikan hampir 10 ton daging beku untuk dibagikan selama Iduladha guna mengurangi absennya tradisi kurban.

Pola pembelian masyarakat kini berubah drastis ke arah daging beku dan dingin karena hewan hidup tidak lagi terjangkau bagi sebagian besar keluarga.

Pedagang daging Mohammed al-Najjar menjelaskan bahwa sekitar 80 persen daging beku di pasar Gaza berasal dari Israel, sebagian besar dari Argentina atau Uruguay. Sisanya sekitar 20 persen masuk dari Mesir dalam bentuk potongan besar daging, biasanya berasal dari Brasil.

Ia menambahkan bahwa hewan hidup hampir menghilang dari pasar, sementara harga satu kilogram daging kambing mencapai sekitar 300 shekel (105 dolar AS), memaksa banyak organisasi beralih ke daging beku.

Persiapan Hari Raya yang Meredup

Kondisi serupa terlihat di toko-toko dan pasar Gaza, di mana persiapan Iduladha tampak jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Di jalan-jalan utama pusat perdagangan Gaza, toko-toko memang memajang pakaian, mainan, dan manisan, tetapi pembelinya sangat sedikit. Tingginya pengangguran dan minimnya uang tunai membuat banyak keluarga hanya fokus pada kebutuhan pokok.

“Memasukkan barang ke Jalur Gaza kini menjadi sangat mahal, dan itu langsung memengaruhi harga pakaian di pasar,” kata Amjad Akram, pemilik toko pakaian anak di lingkungan Remal.

Biaya pengiriman kini naik hingga delapan kali lipat dibanding sebelum perang. Dulu biaya mengirim satu kotak pakaian sekitar 250 shekel (88 dolar AS), sedangkan sekarang mencapai sekitar 2.000 shekel (705 dolar AS).

Akram mengatakan daya beli masyarakat turun drastis karena prioritas utama kini adalah makanan dan kebutuhan dasar, bukan pakaian baru.

Menurutnya, musim Iduladha tahun ini sangat berbeda. Banyak pelanggan datang hanya untuk bertanya harga lalu pergi dengan terkejut tanpa membeli apa pun.

Selain suara takbir yang terdengar dari kamp-kamp pengungsian atau dari mobil yang berkeliling kota menggunakan pengeras suara, hampir tidak ada suasana perayaan pada Iduladha pertama sejak “gencatan senjata” Oktober lalu di Gaza.

Di luar itu, masyarakat tenggelam dalam kemiskinan ekstrem dan kehilangan yang tak berkesudahan, sambil berusaha menyusun kembali kehidupan mereka yang telah dihancurkan Israel selama dua tahun terakhir.

share on: