Keluarga Sebut Dokter Gaza Hussam Abu Safiya Tunjukkan Tanda-Tanda Penyiksaan Selama Ditahan Israel

share on:

Seorang dokter Palestina terkemuka yang ditangkap Israel pada akhir 2024 dan terus ditahan sejak saat itu, tampil melalui sambungan video dalam sidang Mahkamah Agung Israel di Yerusalem. Keluarganya menyatakan bahwa ia menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang terlihat jelas.

Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, menuntut pembebasan segera setelah berbulan-bulan berada dalam tahanan saat menghadiri sidang pada Rabu. Rekaman video menunjukkan tubuhnya tampak jauh lebih kurus, terutama pada bagian wajah dan perut.

“Penahanan saya tidak adil dan sewenang-wenang, dan saya menuntut pembebasan saya segera,” kata Abu Safiya melalui pengacara pembelanya, Nasser Abu Odeh.

“Saya adalah seorang dokter anak yang memberikan layanan dan perawatan medis kepada pasien, korban luka, serta kelompok rentan di Jalur Gaza,” ujarnya.

Menurut organisasi hak asasi manusia Israel, Physicians for Human Rights Israel (PHRI), Abu Safiya telah ditahan tanpa dakwaan selama lebih dari 500 hari.

Masih Ditahan di Sel Isolasi

Pengacaranya, Nasser Abu Odeh, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Abu Safiya masih ditempatkan di sel isolasi di Penjara Nafha.

“Dr. Hussam masih berada dalam sel isolasi di Penjara Nafha. Ia hadir di pengadilan melalui layar video dalam kondisi tangan dan kakinya dibelenggu, dan pengadilan menolak melepas belenggu tersebut,” ujarnya.

Menurut Abu Odeh, Abu Safiya tidak menerima perawatan medis maupun obat-obatan yang dibutuhkannya untuk mengatasi penyakit kronis yang dideritanya.

“Ia terus mengalami nyeri hebat pada punggung dan leher setelah mengalami penganiayaan. Ia juga mengalami gangguan penglihatan setelah kacamatanya disita dan hingga kini belum dikembalikan,” tambahnya.

Keluarga Mengaku Terkejut Melihat Kondisinya

Usai sidang, putra Abu Safiya, Ilyas Abu Safiya, mengaku terkejut melihat kondisi ayahnya.

“Saat melihat gambar terbaru ayah kami, kami menyambutnya dengan keterkejutan, air mata, dan tangisan,” katanya kepada Al Jazeera.

“Kami tidak hanya melihat wajah seorang ayah yang telah lama kami rindukan. Kami melihat bekas-bekas penyiksaan, rasa sakit, dan kelelahan yang tergambar jelas di wajahnya.”

Abu Odeh juga mengungkapkan bahwa tanda-tanda penyakit kulit terlihat pada tangan Abu Safiya, kondisi yang menurutnya banyak dialami tahanan politik Palestina di penjara Israel.

“Tampaknya otoritas Israel dengan sengaja menahan akses layanan medis untuk semakin menekan para tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara tersebut,” ujarnya.

Ditahan Tanpa Dakwaan

Militer Israel menangkap Abu Safiya pada 27 Desember 2024 saat melakukan penggerebekan terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan.

Sebelumnya, Abu Safiya menolak perintah pengosongan paksa dari Israel dan tetap bertahan di rumah sakit untuk merawat para pasiennya. Ia juga dikenal luas melalui pernyataan-pernyataan video yang menyerukan kepada dunia agar menghentikan serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan di Gaza.

Ia juga memimpin prosesi pemakaman putranya, Ibrahim, yang meninggal dunia akibat serangan drone Israel di gerbang rumah sakit.

Sejak saat itu, Abu Safiya ditahan berdasarkan Undang-Undang Kombatan Tidak Sah (Unlawful Combatant Law) yang disahkan Israel pada 2002. Undang-undang tersebut memungkinkan penahanan tanpa batas waktu tanpa dakwaan resmi dan mencabut sejumlah perlindungan yang dijamin oleh Konvensi Jenewa.

Pengadilan Israel menunda keputusan mengenai kelanjutan penahanannya, sementara putusan akhir diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.

Desakan Internasional untuk Pembebasan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Komite Internasional Palang Merah (ICRC), serta berbagai organisasi hak asasi manusia dan tim hukum internasional telah menyerukan pembebasan segera bagi Abu Safiya.

Dalam berbagai laporan sebelumnya, mereka menyatakan bahwa dokter anak tersebut mengalami penyiksaan dan perlakuan buruk selama berada dalam tahanan Israel. Ia juga dilaporkan mengalami penurunan berat badan yang drastis, infeksi kulit, serta pengabaian layanan kesehatan.

Kasus Abu Safiya kembali mendapat perhatian luas di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

Pada Kamis, seorang warga Palestina menjadi korban jiwa setelah pasukan Israel menembaki sebuah bangunan apartemen di dekat Kamp Pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Dua orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan drone Israel di kawasan Zeitoun, tenggara Kota Gaza, sementara seorang perempuan mengalami luka kritis akibat serangan drone di wilayah Beit Lahiya, Gaza utara, menurut kantor berita Palestina WAFA.


share on: