GAZA – Sedikitnya empat orang meninggal dunia setelah angin musim dingin menyebabkan dinding-dinding runtuh dan menimpa tenda-tenda darurat yang menjadi tempat berlindung warga Palestina pengungsi akibat perang di Gaza.
Kondisi kehidupan yang berbahaya terus berlangsung di Gaza, lebih dari dua tahun sejak dimulainya pemboman besar-besaran Israel, di tengah kekurangan bantuan kemanusiaan yang masih berlanjut. Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober, kelompok bantuan menyatakan warga Palestina masih kekurangan tempat tinggal yang layak untuk menghadapi badai musim dingin yang kerap terjadi.
Tiga anggota satu keluarga—Mohammed Hamouda (72), cucunya yang berusia 15 tahun, serta menantunya—meninggal dunia setelah sebuah dinding setinggi delapan meter runtuh dan menimpa tenda mereka di wilayah pesisir sepanjang pantai Mediterania di Kota Gaza. Pihak Rumah Sakit Al-Shifa menyatakan sedikitnya lima orang lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Seorang perempuan lainnya juga meninggal dunia setelah sebuah dinding roboh dan menimpa tendanya di bagian barat Kota Gaza, tambah pihak rumah sakit.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa menyatakan seorang bayi laki-laki berusia satu tahun meninggal dunia akibat hipotermia pada malam hari di kota Deir el-Balah, Gaza tengah. Bayi tersebut menjadi korban ketujuh yang meninggal dunia akibat cuaca dingin sejak awal musim dingin. Korban lainnya termasuk seorang bayi berusia tujuh hari dan seorang anak perempuan berusia empat tahun, yang kematiannya diumumkan pada Senin.
Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan sedikitnya 100 anak di bawah usia 18 tahun—60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan—meninggal dunia sejak gencatan senjata dimulai, akibat operasi militer termasuk serangan drone dan udara, tembakan tank, serta penggunaan amunisi tajam.
Ia menegaskan angka tersebut hanya mencakup insiden yang memiliki data cukup untuk dicatat, dan jumlah korban jiwa sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Ratusan anak lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Sementara itu, militer Israel menyatakan telah terjadi baku tembak pada Selasa dengan enam orang yang terdeteksi berada di dekat pasukan mereka di Gaza selatan, yang mengakibatkan sedikitnya dua orang meninggal dunia di Rafah bagian barat.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 440 orang meninggal dunia akibat tembakan Israel dan jenazah mereka dibawa ke rumah sakit sejak gencatan senjata mulai berlaku. Kementerian tersebut memiliki catatan korban yang terperinci dan dinilai dapat dipercaya oleh badan-badan PBB serta para pakar independen.
Dengan populasi lebih dari dua juta jiwa, warga Gaza kini berjuang menghadapi udara dingin dan badai musim dingin di tengah keterbatasan bantuan kemanusiaan serta minimnya hunian sementara yang lebih layak—yang sangat dibutuhkan selama musim dingin.
Mayoritas penduduk terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat setelah rumah-rumah mereka hancur menjadi puing-puing.
Saat badai melanda wilayah tersebut, para petugas penyelamat Palestina memperingatkan warga agar tidak berlindung di bangunan yang rusak karena khawatir akan runtuh. Kelompok bantuan menyatakan jumlah material tempat tinggal yang masuk ke Gaza masih jauh dari mencukupi.



Sumber : Al Jazeera



