Gaza: Lebih dari 10 Warga Palestina Meninggal Setiap Hari Akibat Pembatasan Evakuasi Medis oleh Israel

share on:

Gaza — Lebih dari 10 warga Palestina dilaporkan meninggal setiap hari di Jalur Gaza akibat pembatasan ketat yang diberlakukan Israel terhadap evakuasi medis, sehingga menghalangi pasien mendapatkan perawatan mendesak di luar wilayah tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan sekitar 1.400 warga Palestina meninggal saat menunggu proses evakuasi medis ke luar negeri sejak Mei 2024.

Pasien Kritis Terancam Kehilangan Nyawa

Direktur Departemen Informasi Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, mengatakan pada Senin bahwa setiap hari terdapat antara enam hingga 10 pasien yang meninggal saat menunggu izin untuk berobat ke luar negeri.

Ia mengungkapkan setidaknya terdapat 195 kasus dalam kondisi mengancam jiwa, dan memperingatkan bahwa jika tidak segera dievakuasi dalam beberapa jam ke depan, nyawa mereka berada dalam risiko besar.

Selain itu, terdapat 1.971 kasus darurat lainnya yang membutuhkan evakuasi dalam beberapa pekan, atau kondisi mereka akan semakin kritis.

Di antara para pasien tersebut terdapat sekitar:

  • 4.000 anak-anak
  • 4.000 pasien kanker

Evakuasi Medis Terhambat Blokade Berkepanjangan

Evakuasi medis dari Gaza telah lama menjadi tantangan besar bagi warga Palestina akibat blokade Israel yang berlangsung bertahun-tahun.

Sejak dimulainya perang di Gaza, pembatasan tersebut semakin diperketat, terutama setelah pasukan Israel menguasai perlintasan Rafah beserta wilayah sekitarnya.

Perlintasan Rafah yang terletak di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk bagi warga sipil dan barang yang tidak melalui Israel.

Namun, perlintasan ini ditutup sejak Mei 2024 setelah dikuasai oleh pasukan Israel, menjadikannya titik krusial yang tidak dapat diakses.

Pembukaan Terbatas Tidak Cukup

Dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober, pembukaan kembali perlintasan Rafah menjadi salah satu tuntutan utama PBB dan organisasi kemanusiaan.

Pada awal Februari, perlintasan ini sempat dibuka kembali secara terbatas untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun.

Dalam pengaturan tersebut:

  • 50 warga Palestina diizinkan masuk ke Gaza dari Mesir setiap hari
  • Sekitar 150 warga Palestina diizinkan keluar dari Gaza setiap hari

Namun, banyak pasien dan pendamping mereka tetap tidak diizinkan keluar dari wilayah yang diblokade.

Sepanjang Februari, hanya 490 pasien yang berhasil dievakuasi, jumlah yang dinilai sangat kecil.

“Kami membutuhkan evakuasi sekitar 400 pasien per hari, dan minimal 200 per hari agar seluruh pasien dan korban luka dapat tertangani dalam waktu enam bulan,” ujar Wahidi.

Pembatasan Semakin Ketat di Tengah Eskalasi Konflik

Dalam beberapa hari terakhir, pembatasan terhadap evakuasi medis semakin diperketat, terutama di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran.

Israel menutup perlintasan pada 28 Februari, dan meskipun sempat dibuka kembali pada pekan lalu, operasionalnya masih sangat terbatas.

Sejak perlintasan kembali dibuka pada 19 Maret, tidak lebih dari 24 pasien beserta pendampingnya yang berhasil dievakuasi.

Risiko dan Hambatan Bagi Pasien

Pasien yang berusaha keluar dari Gaza menghadapi berbagai kendala, termasuk:

  • proses perjalanan yang panjang dan melelahkan
  • prosedur yang rumit
  • pembatasan dari pihak Israel
  • dampak konflik regional

Wahidi juga mencatat bahwa lebih dari 1.400 pasien dari total 20.000 telah meninggal sejak 7 Mei 2024 akibat blokade yang diberlakukan.

sumber : middleeasteye

share on: