Gaza — Rakyat Palestina di Jalur Gaza menyambut Hari Raya Idulfitri di tengah duka mendalam akibat kehilangan dalam berbagai bentuk, menyusul perang berkepanjangan yang terus berlangsung dan menyebabkan perpecahan keluarga serta jatuhnya korban jiwa di berbagai kesempatan.
Sejak pagi hari, warga Gaza berbondong-bondong menuju tempat salat Idulfitri, baik di area terbuka sementara maupun masjid-masjid di lokasi pengungsian. Usai salat, mereka saling bertukar ucapan selamat, dengan harapan perang segera berakhir dan mereka dapat kembali ke rumah serta wilayah asal mereka.
Duka Kehilangan dan Pengungsian
Memasuki Idulfitri, seorang ibu bernama Maisa Yusuf Abu Taha (60 tahun) merasakan duka yang berlapis. Di tengah kesulitan hidup sebagai pengungsi bersama keluarganya, ia tetap menyimpan harapan agar putranya, Anwar Adel Abu Taha, dapat kembali.
Anwar, seorang pemuda yang dikenal tenang dan penuh semangat, bekerja di bidang perdagangan emas. Ia keluar rumah pada 7 Oktober 2023 dan tidak pernah kembali sejak saat itu.
Meski belum ada kepastian apakah anaknya masih hidup, Maisa mengaku memiliki keyakinan bahwa putranya masih ada. Ia bahkan berharap Anwar termasuk dalam pembebasan tahanan dalam pertukaran terakhir.
Dengan air mata, ia mengatakan bahwa keluarganya telah menghubungi berbagai lembaga internasional, termasuk Palang Merah, namun belum menerima informasi pasti mengenai keberadaan Anwar.
“Saya berharap pintu terbuka dan Anwar masuk. Saya sangat merindukannya. Dia selalu hadir dalam pikiran saya, di Ramadan, di hari raya, dan setiap waktu,” ujarnya.
Ia juga menyerukan kepada semua pihak terkait untuk membantu mengungkap nasib para warga Gaza yang hilang.
Kehilangan Sosok Ayah
Kisah serupa dialami Amal Abdul Ghafour (25 tahun) yang kehilangan suaminya, Arsil Al-Tawil (27 tahun), pada 7 Oktober 2023.
Kini ia harus membesarkan dua anaknya, Aseel (7 tahun) dan Abdul Ghani (6 tahun), seorang diri.
Ia mengungkapkan bahwa Idulfitri kini terasa sangat berat tanpa kehadiran sang suami, yang sebelumnya selalu mendampingi dalam kehidupan sehari-hari.
Kenangan yang Terus Hidup
Amal mengatakan bahwa sejak kehilangan suaminya, ia harus memikul tanggung jawab besar dalam membesarkan anak-anak, termasuk memenuhi kebutuhan mereka saat hari raya.
“Setiap Idulfitri, kenangan tentang suami saya kembali hadir. Dia selalu ada dalam setiap momen hidup saya,” katanya.
Ia juga mengaku telah menghubungi Palang Merah, namun hingga kini belum ada kabar mengenai nasib suaminya.
Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan mendatangi rumah sakit Nasser untuk mencoba mengenali jenazah yang diserahkan, meski banyak di antaranya dalam kondisi sulit dikenali.
Ia mengaku pengalaman tersebut sangat menyakitkan hingga beberapa kali membuatnya pingsan.
Meski demikian, Amal tetap berharap dapat menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu dan suatu hari dapat kembali bertemu dengan suaminya.
Gambaran Umum Penderitaan Warga Gaza
Kisah Abu Taha dan Abdul Ghafour mencerminkan kondisi mayoritas keluarga Palestina di Gaza yang kehilangan anggota keluarga, rumah, dan sumber kehidupan mereka.
Selama perang, ribuan tragedi kemanusiaan terjadi, dengan banyak keluarga yang hilang dari catatan sipil akibat kehancuran total.
Selain itu, ribuan warga juga ditahan tanpa kejelasan nasib dan kondisi mereka.
Data Korban dan Kerusakan
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina:
- Lebih dari 72.249 orang meninggal dunia
- Sekitar 171.898 orang mengalami luka-luka
- Ribuan lainnya masih hilang di bawah reruntuhan atau dalam tahanan
Gencatan Senjata yang Rapuh
Kesepakatan gencatan senjata antara pihak perlawanan dan Israel mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Namun, pelanggaran terhadap kesepakatan masih terus terjadi, termasuk:
- serangan terhadap warga sipil
- penutupan perbatasan
- pembatasan masuknya bantuan
Serangan dan Kehidupan yang Tercekik
Militer Israel terus melakukan operasi penghancuran secara luas, disertai dengan penerbangan intensif pesawat tempur dan serangan udara hampir setiap hari, bahkan di wilayah yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman.
Selain itu, akses laut juga ditutup bagi para nelayan.
Kehancuran Infrastruktur dan Krisis Berkepanjangan
Perang juga menyebabkan kehancuran besar di berbagai sektor penting, antara lain:
- sektor kesehatan
- sektor ekonomi
- lingkungan hidup
- infrastruktur dasar
- jaringan air dan jalan
- sektor pertanian
Blokade yang terus berlangsung semakin memperburuk kondisi, menyebabkan banyak sektor vital tidak dapat berfungsi dan memicu krisis kemanusiaan yang semakin dalam.
sumber: Arabi21



